TUziTSMoGpMlTUWiGfCoTpM9Td==

Keunikan Ntumbu, Tradisi Adu Kepala Orang Bima


Indonesia memang memiliki kekayaan tradisi dan budaya. Mulai dari prosesi pernikahan, pemakaman, hingga penyambutan tamu. Kalau biasanya menyambut tamu dengan tari-tarian, di Bima, Nusa Tenggara Barat tamu disuguhkan dengan atraksi tradisional.

Nama atraksi tersebut adalah mpaa ntumbu atau biasa disebut ntumbu. Ntumbu merupakan tradisi mengadu kepala dua pria dewasa, layaknya dua ekor domba yang sedang bertarung. Jika tertarik untuk menyaksikan atraksi adu kepala, Anda bisa mendatangi Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Untuk ke Bima, kita harus menyebrang dari Pulau Lombok. Ada juga penerbangan khusus ke Bima, jadi tidak perlu khawatir. Dari pusat pemerintahan Kabupaten Bima, perjalanan kurang lebih satu jam menuju ke Desa Maria.

Biasanya ritual ntumbu digelar di halaman mumbung khas masyarakat Bima. Ntumbu sudah ada sejak ratusan tahun lalu saat masa Kesultanan Bima. Ketika itu ada seorang prajurit yang berasal dari Ntori bernama Hamid. Saat perang berlangsung, senjata pasukan Bima dirampas musuh.

Lalu, Hamid mengajak para pasukan Bima untuk berani maju dengan hanya mengandalkan kepala mereka sebagai senjata. Pasukan Bima menyerang dengan menyeruduk ke arah musuh. Dari perlawanan dan menggunakan senjata â€Å“kepala manusia” ini, mpaa ntumbu kemudian dikenal sebagai wujud dari nilai perlawanan terhadap musuh.

Di masa kini, ntumbu menjadi acara penyambutan tamu dan bagian dari identitas budaya orang Bima atau Mbojo. Untuk pelaksanaan ritual ini, akan dipilih dua orang yang saling membenturkan kepala secara bergantian atau yang disebut, "Sabua dou ma te’e sabua dou ma ntumbu" (satu dalam posisi bertahan dan satunya lagi dengan posisi menyerang). Tabuhan gendang dan Silu (alat musik dari daun lontar) mengiringi para peserta mpaa ntumbu.

Satu peserta bersiap yang menyerang atau tee, sementara yang lainnya akan menerima serangan. Tee akan mengambil jarak tertentu sebelum akhirnya mendekat ke arah penerima serangan. Sebelum diserang, peserta akan mengangkat ibu jari sebagai tanda bahwa dia sudah siap. Lalu, Tee menyerang kepala lawan, setelah itu bergantian.

Bukti bahwa ritual ini benar-benar dilakukan terdengar dari suara benturan yang dihasilkan. Meski saling beradu kepala, tidak ada peserta ntumbu yang kesakitan apalagi berdarah. Efek kebal itu diyakini berasal dari mantera yang dirapal oleh tetua adat dan air doa. Peserta juga berserah sepenuhnya kepada Sang Maha Kuasa sehingga mereka tidak takut rasa sakit untuk melakukan ntumbu.

Pertandingan ntumbu dipimpin dan diawasi oleh Sando atau orang pintar yang juga bertugas sebagai wasit. Dalam ntumbu, tidak ada yang menang ataupun kalah. Bahkan, peserta yang mengikuti ntumbu tidak akan merasa dendam kepada lawannya.




berita pendaki gunung, berita adventure, pendaki gunung, kaos pendaki gunung, jasa pembutan website murah, website organisasi, website sekolah, website developer, pembutan website, website desa, website sekolah, website otomotif, website organisasi, sispala, mapala, komunitas, adventure, pendaki gunung, cerita pendaki gunung, marcandes adventure, gunung rinjani, gunung gede, websitemurah, 

Comments0

Type above and press Enter to search.